Kumpulan Puisi Balada
Ciliwung yang Manis
Ciliwung mengalir
Dan menyindir gedung-gedung kota Jakarta
Kerna tiada bagai kota yang papa itu
Ia tahu siapa bundanya.
Ciliwung bagai lidah terjulur
Ciliwung yang manis tunjukkan lenggoknya.
Dan Jakarta kecapaian
Dalam bisingnya yang tawar
Dalamnya berkeliaran wajah-wajah yang lapar
Hati yang berteriak karena sunyinya.
Maka segala sajak
Adalah terlahir karena nestapa
Kalau pun bukan
Adalah dari yang sia-sia
Ataupun ria yang karena papa.
Ciliwung bagai lidah terjulur
Ciliwung yang manis tunjukkan lengoknya.
Ia ada hati di kandungnya
Ia ada nyanyi di hidupnya,
Hoi, geleparnya anak manja!
Dan bulan bagai perempuan tua
Letih dan tak diinfahkan
Menyebut langkahnya atas kota.
Dan bila ia layangkan pandangnya ke Ciliwung
Kali yang manis membalas menatapnya!
Hoi! Hoi!
Ciliwung bagai lidah terjulur
Ciliwung yang manis tunjukkan lenggoknya.
Teman segala orang miskin
Timbunan rindu yang terperam
Bukan bunga tapi bunga.
Begitu kali bernyanyi meliuk-liuk
Dan Jakarta disinggung dengan pantatnya.

HIDUP
Khalil Gibran

KEHIDUPAN merupakan sebuah pulau di lautan kesepian, dan bagi pulau itu bukit karang yang timbul merupakan harapan, pohon merupakan impian, bunga merupakan keheningan perasaan, dan sungai merupakan damba kehausan.

Hidupmu, wahai, Saudara-saudaraku, laksana pulau yang terpisah dari pulau dan daerah lain. Entah berapa banyak kapal yang bertolak dari pantaimu menuju wilayah lain, entah berapa banyak armada yang berlabuh di pesisirmu, namun engkau tetap pulau yang sunyi, menderita karena pedihnya sepi dan dambaan terhadap kebahagiaan. Engkau tak dikenal oleh sesama insan, lagi pula terpencil dari keakraban dan perhatian.

Saudaraku, kulihat kau duduk di atas bukit emas serta menikmati kekayaanmu – bangga akan hartamu, dan yakin bahwa setiap genggam emas yang kaukumpulkan merupakan mata rantai yang menghubungkan hasrat dan pikiran orang lain dengan dirimu.
Di mata hatiku engkau tampak bagaikan panglima besar yang memimpin balatentara, hendak menggempur benteng musuh. Tetapi setelah kuamati lagi, yang tampak hanya hati hampa belaka, yang tertempel di balik kopor emasmu, bagaikan seekor burung

kehausan dalam sangkar emas dengan wadah air yang kosong.
Kulihat engkau, Saudaraku, duduk di atas singgasana agung; di sekelilingmu berdiri rakyatmu yang memuji-muji keagunganmu, menyanyikan lagu penghormatan bagi karyamu yang mengagumkan, memuji kebijaksanaanmu, memandangmu seakan-akan nabi yang mengejawantah, bahkan jiwa mereka melambungkan suka ria sampai ke langit-langit angkasa.

Dan ketika engkau memandang kawulamu, terlukislah pada wajahmu kebahagiaan, kekuasaan, dan kejayaan, seakan-akan engkau adalah nyawa bagi raga mereka.
Tetapi bila kupandang lagi, tampak engkau seorang diri dalam kesepian, berdiri di samping singgasanamu, menadahkan tangan ke segala arah, seakanakan memohon belas kasihan dan pertolongan dari hantu-hantu yang tak tampak – mengemis perlindungan, karena tersisih dari persahabatan dan kehangatan persaudaraan.

Kulihat dirimu, Saudaraku, yang sedang kasmaran pada wanita jelita, memasrahkan hatimu pada altar kecantikannya. Ketika kulihat ia memandangmu dengan kelembutan dan kasih keibuan, aku berkata dalam hati, “Terpujilah Cinta yang mampu mengisi kesepian pria ini dan mengakrabkan hatinya dengan hati manusia lain.”

Namun, bila kuamati lagi, kentara dalam hatimu yang bersalut cinta terdapat hati lain yang kesunyian,

sia-sia meratap hendak menyatakan cintanya pada wanita; dan di balik jiwamu yang sarat cinta, terdapat j iwa lain yang hampa, bagaikan awan yang mengembara, sia-sia menjadi titik-titik air mata kekasihmu….

Hidupmu, wahai, Saudaraku, merupakan tempat tinggal sunyi yang terpisah dari wilayah perumahan orang lain, bagaikan ruang tengah rumah yang tertutup dari pandang mata tetangga. Seandainya rumahmu tersaput oleh kegelapan, sinar lampu tetanggamu tak dapat masuk meneranginya. Jika kosong dari persediaan pangan, isi gudang tetanggamu tak dapat mengisinya. Jika rumahmu berdiri di sehamparan gurun, engkau tak dapat memindahkannya ke halaman orang lain, yang telah diolah dan ditanami oleh tangan orang lain. Jika rumahmu berdiri di atas puncak gunung, engkau tak dapat memindahkannya ke lembah, karena lerengnya tak dapat ditempuh oleh kaki manusia.
Kehidupanmu, Saudaraku, diliputi oleh kesunyian, dan jika bukan karena kesepian dan kesunyian itu, engkau bukanlah engkau, dan aku bukanlah aku. Jika bukan karena kesepian dan kesunyian itu, aku akan percaya manakala mendengar suaramu sebagai suaraku, atau manakala aku memandang wajahmu, itulah wajahku sendiri yang tengah memandang cermin.

Kasih & Kehidupan

Halusnya jari-jari lentik memetik gitar di halaman belakang ketika anggrek bulan tengah mekar
Merdunya tembang penyanyi tua dalam lantunan kasih dan getar rindu suka cita di masa silam
Ya, Rabbana teduh jiwaku dalam syukur ketika kau turunkan rahmat di kehidupan yang bening dan tulus
Meski hatiku terus berkelana di liku bukit medan kembara langkahku tak sesat, atau terjatuh di ngarai tandus tak bersahabat karena di balik cakrawala kulihat mentari pagi berdendang melambai menabur kasih dan cahaya kehidupan

BALADA TANAH MERAH

Kenapa tanah disini merah?
Begitu aku bertanya ketika kami tiba dari Rusia..
Ayah tersenyum penuh rahasia
Inilah salju Jakarta
Tanah disini
Banyak mengandung besi
Berarti kuat dong, aku tertegun
Iya nak, kuat untuk dibangun
Lihatlah sekelilingmu
Dimana-mana generasi muda dan tua
Membawa map dan buku guna menuntut ilmu
Untuk membangun bersama
Indonesia,
repulik yang masih muda
tak peduli apakah pemuda rakyat atau hmi
yang penting kita bersama berdiri
diatas tanah merah ini.
Bahkan banyak yang rela untuk pergi
Ke luarnegeri, demi belajar serta
Rasa hormat dunia untuk pertiwi
Anakku, jangan kau lupa
Tanah airmu itu kaya
Harta karun tak terhingga
Terkandung di dalam perutnya
Dan hanya dengan ilmu
Kami simpan untuk generasimu
Demikian aku mulai hidup
Di atas tanah merah jakarta
Mencari diri dan membentuk
Seperti pemuda dimana-mana
Menempa besi menjadi baja.

Tetapi aku masih terlalu kecil
Ketika tiba-tiba terjadi
Peristiwa yang aku belum mengerti

Di suatu hari yang cerah
masih nampak biru
Warna langit pagi
Tanah menjadi lebih merah
Karena terkuak gerigi
Roda tank- tank yang menderu
Dan tanpa disangka
Kampungku Gang Rambutan
Di pinggir jalan pasar Minggu
Masuk kedalam neraka
Kakiku masih melangkah
Tak sadar ke arah sekolah..
Tetapi di kiri kanan jalanan
Oh Tuhan..
Kenapa ini boleh terjadi
Seperti mimpi yang ngeri..
Mengapa Engkau pergi
Meninggalkan tempat ini?
Sementara itu terlihat
Dari segala penjuru
Bergerombol banyak pemuda
Berbaju pencak silat
Dengan menabuh gendang
Dan berteriak Allahu Akbar!
Seketika itu suasana keruh
Rumah penduduk setempat diserbu
Gendang masih terdengar ditabuh
Kali ini tercampur teriakan pilu!
Wanita dan pria diseret keluar
Ditendang,digebuk,rambut terurai dicambuk
Rumah-rumah sudah siap dibakar
Sambil berteriak Allahu Akbar..!
Aku seperti terpaku berdiri
Tak tahu harus terus atau kembali
Tiba tiba seorang ibu berlari padaku
Tiarap! Tiarap neng, jangan tegak begitu!
Ia tutupi aku dengan selendang
Selendang yang panjang dan agak usang..
Tak tahu berapa lama kami bongkok sembunyi
Aku sempat melihat satuan PM datang
Mencoba mengembalikan ketertiban
Dari jauh terdengar tangisan bayi
Mungkin tanpa ibu, ditinggal sendiri..

Suasana jadi sangat sunyi
Dari jauh terdengar azan menyanyi
Seakan tak ada suatu terjadi
Begitu damai membelai di hati
Aku beranikan diri keluar dan lari
Lari dan lari tanpa nengok ke belakang
Kanan kiri sepanjang jalan
Nampak hanya reruntuhan
Didepan rumah orang-orang berkerumun
Hatiku terasa pilu bergetar
Dari mereka aku mendengar
Penggerebekan di sekitar kampung
Masih terus berlangsung
Penangkapan mulai terjadi
Aku nangis didada ibu
Pucat dengan rambut kusut
Airmata panas mengalir menyengat pipi
Mengapa Malam Kristal terjadi disini?
Rumah kami pula hancur
Buku campur alat dapur
Porakporanda dihalaman
Kapuk putih bagaikan salju
Bertebangan dari kuakan kasur
Orang tuaku hari itu dijemput
Bisu, gelapnya malam bagai selimut
Berhenti dua truk,seperti bayangan
Sosok-sosok bertopi baja mengepung halaman
Ibunda masih sempat berbisik mesra
Kuatlah anakku Dinusjka
Ini hanya sementara
Pasti kami pergi tak lama
Kita tak salah, kebenaran ada dipihak kita!

Tersedu susah melepas pelukan
Aku dan kakak ditinggal ditengah malam
Didepan rumah yang sudah hancur
Dengan hanya berbekal: harapan
Satu hal lagi pesan ibu
Jangan mudah membuka pintu
Kalau ada kenalan kami datang
Lebih baik kalian diam
Kini berkuasa jaman edan
Teman sendiri menjadi lawan
Dan diluar betul kata ibu
Suasana semakin tidak tentu
Tank-tank berdiri ditiap sudut jalan
Patroli PM kontrol terus jam malam
Di siang hari tank-tank menderu berang
Truk-truk penuh tentara bertopi baja
Senapan-senapan terhunus mengancam
Sambil bergelak ketawa seram
Menembak keatas, anjing dan ayam

Seolah-olah ini tanah
Masih kurang berwarna merah
Sehingga perlu ditambah
dengan
Lebih banyak tumpahan darah
Tak terasa empat bulan berlalu
Kami tetap di rumah mencoba survive
Dan tetap menunggu
Mengharap saat kembalinya ayah ibu
Tetangga banyak membantu
Kami ditampung beberapa waktu
Tukang sayur selalu datang
Dengan gratis memberi sayuran
Dan aku selalu menyesal
Aduh Bang belum ada uang..
Ngga apa Neng, gampang, bayar kapan-kapan..

Tetapi pada suatu hari
Pintu degedor bertubi-tubi
Rumah ini telah disita, kamu harus keluar segera!
Jangan coba membawa barang suatu apa,
Ini semua telah milik negara!
Begitu cetus ia menghardik
Seorang kapten bernama Basuki
Terasa matanya ciut membidik
Badanku yang belum mulai puber
Ia komando pada mereka
Yang bersesak penuh dalam truk tentara
Semua pemuda berbaju hitam
Ini masih kecil kok, nggak perlu dihantam!
Awasi saja jangan mereka bawa barang
dan jaga ketat pintu belakang!
Dan kalian, anak-anak orang PKI
Jangan kira terlepas dari kami
Komunisme, seperti syphilis
Sampai tujuh turunan harus dibasmi!

Aku terduduk lemas, harus kemanakah kami?
Sedangkan sanak famili dengan panik lari
Menjauh, tak berani, meskipun aku bisa mengerti
Tiba-tiba kami jadi paria, anak-anak penjahat
Jari telunjuk menunjuk, menusuk
Jauhi mereka, jangan dekat
Mereka telah dikutuk Tuhan!
Gara-gara ikut Komunis, ilmu setan!

Jaman memang berubah, tidak seperti dulu
Moral berjungkir balik dalam sekejap mata
Apa yang dulu baik, kini menjadi tercela
Mode ‘orang kaya baru’
merajalela

Muncul di mana-mana tante bergaya girang
Bibir bergincu merah dan berbadan sintal
Memakai celana jengki, rambut disasak tinggi
Jalan melenggang dengan bedinde belanja di pasar pagi
Om-om senang menyelusur jalanan dengan jip kantor
pada waktu kantor, ini memang moral koruptor
Matanya buas mencari mangsa
Gadis-gadis yang belum dewasa
Isteri tentara,kopral dan sersan
Mendadak kaya,bergaya nyonya besar
Isteri jendral dan overste berlomba-lomba
Membeli titel aristokrat
berdarah biru, seakan malu,
Kalau merah berarti merakyat
Tanah merah aku tetap teringat
Tanah Jakarta yang semakin padat
Makin sedikit buatnya untuk merasa bebas
Semakin sedikit ia bisa bernafas
Sampai kini kubertanya setiap hari
Mengapa tanah merah yang aku ingat
Tidak buat manusia menjadi kuat?
Kuat untuk terus semangat, mencari jatidiri
Dan tidak saling membenci dan khianat?

Balada Perompak Mando

Bulan purnama memantul pasi
di ombak pelan tenang bergoyang
Gerimis turun malam ini
memecah bayang yang mengambang

Mando angkat tangan kanan
empat anak buah kenakan topeng
Mando si kepala rompak mimpin kawanan
teguk minuman tepuk pipinya bopeng

Mesin perahu tengah malam meraung
laut tersibak geram, bukan senandung
pekik Mando menuju mendung
memantul jadi gaung

Kawanan rompak menyulut obor
empat lidah api menggeliat, bagai gincu menor
Dan sebotol besar minyak di tangan kiri
menanti, menanti perahu rompak henti

Babah Mehong terjaga ngeri
Pelacurnya terjengkang keluar ranjang
meringis, ikut berlari
Babah Mehong dan tiga awak kapal mengerang
Di geladak mereka saling pandang
Babah Mehong lututnya nyaris copot
kolornya melorot, juga nyalinya:
“Melawan perompak adalah percuma.
Menghindar bisa jadi sate
menurut artinya kere!”

Sahut si pelacur: “Berikan separuhnya, segera!
Jangan tunggu mereka lompat padaku!”

Dan Mando telah kenakan topeng
mencabut dua pedang. Bagai lonceng
suara bilah dan bilah saling tempa
tandanya perahu rompak mendekat
dan kawanan selincah tupai siap meloncat

Si pelacur beringsut, gemetar menuju kamar
meringkuk di kolong ranjang
merapal doa yang lama ia lupakan

Di geladak tiada doa, harap belaka
Babah Mehong dan tiga cecunguk bengong
Keempatnya melutut, dirajam takut
Tak seperti gerimis langit mencurah tipis
Mata Babah Mehong tebal menangis
Didengarnya suara kepala rompak menggelegak:
“Kau tahu apa yang diminta rompak?
Coba tebak apa dalam sebalik kain terpalmu!”

Dan perompak gendut dan perompak jangkung
membuka kain terpal tudung

Amboi! Ratusan kayu gelondong
hutan-hutan tlah jadi jerangkong!

O, Babah Mehong sepotong siput
tanpa cangkang pastilah kalut!
Dibantai gentar ia berkata:
“Bukankah sesama maling tak boleh mangsa?”

Mando menyebar seringai, siapkan tikai
“Oho! Kami bukan maling.
Malahan kami musuh para maling;
tikus-tikus pengecut mengerat jaring!”

Gemetar Babah Mehong dan awak kapal
Jawabnya: “Baik kalian ambil separuh kayu
dan biarkan kami segera laju.”

Kawanan rompak terbahak
Perompak gendut meludahkan dahak
“Dapatkah kujual lagi padamu kayu-kayu itu?”

Babah Mehong wajahnya mohon:
“Aku hanya pencuri kayu.
Maka ambillah kayuku.”

Mando sarungkan lagi pedang-pedang
tapi matanya merentang tegang
“Perompak tak merampas barang curian.
Tapi membakar kayu-kayu dalam kapalmu
kini jadi mauku.”

Wahai, Babah Mehong! Wahai, tikus ompong!
Di mana hendak kausembunyikan lolong
padahal laut tiada gorong-gorong!

Dan obor-obor teracung
Dan botol-botol minyak melambung
Maka berkobar api di tengah laut
menjadi lawan bagi mendung
menjadi sebab Babah Mehong nyaris semaput

Dari balik celah jendela kamar
pelacur melihat kawanan rompak kabur
bersama pekik sangar dalam samar
tinggalkan kapal yang bakal hancur
“Aku tahu mereka! Aku tahu mereka!”
jerit pelacur, berdiri, lalu berkelebat
menemu Babah Mehong yang digotong
awak kapal tak mau terlambat
Mereka mencebur ke laut
berbekal segelondong kayu tempat berpaut

Sambil meratap memeluk gelondong kayu
saksikan api membumbung, asap berkawan
pada mendung pada malam, yang kuyu.
“Fajar masih jauh. Derita semalaman!”
Pelacur menangis
oleh sebab tak tahu persis
arahnya nasib. Arahnya bakal menuju maut
lesap dari dunia; betapa carut marut
adalah nikmat milik ular penuh desis

Akal Babah Mehong masih koyak
tapi dendam mulai berderak
“Di sinilah kayu-kayuku mesti dijemput
dan segepok uang menyambut.”

Mendung makin tebal
kobar api tak lagi binal
bau asap bau laut
Babah Mehong lebarkan mulut
tertawa bagai raja:
“Tak sampai fajar derita terasa
kecuali Koman khianati kita!”

Pelacur mendengar suara mesin perahu
menderu cepat, masih sayup
Dan ia kan segera bagai kuncup
harap dan dendam jadi bongkah batu
“Siapa Koman?”

Perahu motor mutari Babah Mehong
Seorang lelaki berdiri di ujung perahu
bukan keris dan tombak dalam genggaman

Dialah Koman. Lelaki pegang senapan

Babah Mehong tak dapat uang
Koman menyimpan berang
dan Pelacur ngomong tanpa luang:
“Lima orang. Aku yakin mereka.
Minum di kedai tempat lacuran.
Yang mimpin pipinya bopeng
yang jangkung lehernya berkoreng
yang gendut suaranya cempreng.”

Sambil natap liuk api kapal bantaian
yang tenggelam pelan
Koman penuhkan kepal tangan
ada nyawa dalam genggaman!
“Tahukah kau di mana kutemukan mereka?”

Kawanan rompak melaju pulang
tuju seberang, pada tepi hutan rimba
Tak ada siapa di sana
cuma gubug kayu rapuh
lumut dan lintah jadi sepuh
Dari sana perompak berkuda seusai subuh
benar-benar pulang pada rumah
tapi kini fajar tak mudah ditempuh
Laut resah. Badai kambuh
Mendung kian tebal menyandera
Bulan mandul sinar meski tlah purnama
Bintang ikut khianat pula

“Kemana larinya orang macam kita?”
Kecuali Mando, mereka belalakkan mata

Tapi Mando bukan anak kecil
hati dan pikir tak mudah kecut
keberanian tak gampang surut dan kerdil
meski laut dan kesempatan tampak menciut

“Kita tahu laut tak ada batas.”
Teriak serak Mando serupa pecahan gelas
Perompak gendut menyahut cepat:
“Tapi laut tahu kita khianat
sedang kita tak tahu seberapa berat
laut telah melaknat!”

O, Mando yang perkasa!
Iblis mana bertengger dalam dada?

“Jika memang benar katamu
kenapa tak dari semula laut beri tahu?
Jika memang kita tak boleh menjamah laut
betapa debur ombak ini kumpulan pengecut!”

Mando tantang gelegak ombak
perahu motor dan badai saling tabrak
Dan Mando tahu bakalan menang

Semburat merah menyembul
di atas ukiran selaput mendung
pada horison pagi

Hiu, bocahnya Mando, nunggui bapaknya
masih berkuda dan lantas meloncat
begitu rupa. Begitu terpana.
“Oleh sebab apa kamu tegun di pantai?”

Ke ufuk timur telunjuk menuding
Dengan bapaknya Hiu ingin berunding:
“Dapatkah kulihat pagi dari lautan?
Dapatkah kusimak pantaiku
di tengah desah ombak kecipak sampan?”

Dan Perahu sampan menjauh
Hiu memutar kepala, berkata:
“Aku tak ingin cepat berlabuh
Betapa indah pagi. Merahnya tembaga.
Andaikan ibu tak cepat mati, Bapak.”

Selarik rindu merongrong dada
Adalah kelabu yang tebal
Kata Mando: “Kini tlah kaukenal
desah ombak, kecipak sampan
dan warna pantaimu dari kejauhan.”

Tapi Hiu belum lelah
“Betapa indah bapak, betapa indah.
Jangan dulu memutar arah!”

Gelak tawa dalam warung
O, malam dingin!
O, malam buih pantai!
Leleh busa bir ‘kan segera usai.

Koman datang seorang saja
“Kalian perompak jangan mengelak!”
Bukan. Bukan gertak belaka
Senjata siap dipicu
Ia tak mungkin keliru
ke arah mana peluru memburu

Perompak gendut maju. Lalu tersungkur
Yang lainnya mundur siap kabur
Tapi Mando bukan pengecut
Mendepak meja warung ia bangkit
Seorang kawan tak boleh sakit
di depannya. Apalagi mati.

O, para rompak dan pencoleng
Lihatlah Mando serupa celeng
songsong Koman tanpa tedeng!

Bulan memukul mendung
tapi langit tetap legam
Lelaki bopeng keluar warung
mendedah kelam berteriak geram:

“Koman! Koman! Koman!
terjangkan pelurumu ke dadaku!”

Maka malam menderas genting
bukan sebab dawai berdenting
tapi timah berdesing

“Koman! Koman! Koman!
terjangkan pelurumu ke dadaku!”

Maka malam berkeriap kering
bukan sebab alunan suling
tapi pekik lolong melengking

“Wahai, Perompak! Penjara menolakmu
nerakalah kemana dirimu menuju!”
Koman menatap larian bocah
yang tersedu dan bersimpuh
dan menutup pancar darah
pada dada milik sang bapak.

“Bukannya kamu membunuh perompak.
Kamu membunuh seorang bapak!”
Suara Hiu pelan datar
tapi alam turut bergetar

O, Koman! Tunggulah saja sebentar
hingga saat Hiu tak ada gentar!

Balada Terbunuhnya Atmo Karpo

Dengan kuku-kuku besi kuda menebah perut bumi
bulan berkhianat gosok-gosokkan tubuhnya
di pucuk-pucuk para
mengepit kuat-kuat lutut penungang perampok
yang diburu
surai bau keringat basah, jenawi pun telanjang

Segenap warga desa mengepung hutan tu
dalam satu pusaran pulang balik Atmo Karpo
mengutuki bulan betina dan nasibnya yang malang
berpancaran bunga api, anak panah di bahu kiri.

Satu demi satu yang maju tersadap darahnya
penunggang baja dan kuda mengangkat kaki muka

– Nyawamu baran pasar, hai orang-orang bebal!
Tombakmu pucuk daun dan matiku jauh orang papa

Majulah Joko Pandan! Di mana ia?
Majulah ia kerna padanya seorang kukandung dosa

Anak panah empat arah dan musuh tiga silang
Atmo Karpo masih tegak, luka tujuh liang

– Joko Pandan! Di mana ia?
Hanya padanya seorang kukandung dosa.

Bedah perutnya tapi masih setan ia!
menggertak kuda, di tiap ayun menungging kepala

– Joko Pandan! Di mana ia?
Hanya padanya seorang kukandung dosa.

Berberita ringkik kuda muncullah Joko Pandan
segala menyibak bagi derapnya kuda hitam
ridla dada bagi derunya dendam yang tiba

Pada langkah pertama keduanya sama baja
Pada langkah ketiga rubuhlah Atmo Karpo
Panas luka-luka, terbuka daging kelopak-kelopak angsoka

Malam bagai kedok hutan bopeng oleh luka
pesta bulan, sorak-sorai, anggur darah.

Joko Pandan menegak, menjilat darah di pedang
Ia telah membunuh bapanya.

Kami Bukan Rakyat Biasa

karena rakyat sudah mampus
sejak lama
kami cuma jelata
yang terhisap dan tertipu
topeng seribu wajah
mulut bisa, nafasnya fitnah
kami digiring berkeliling
kami tajamkan cakar dan taring
demi kursi dan panji-panjimu terhormat
lalu kami dibiarkan melarat
berebut nasi dan garam tinggal sekerat

Kami bukan rakyat
karena rakyat sudah mampus
sejak lama
kami cuma ondel-ondel pengisi pawai
diarak jadi tontonan pemikat
tertawa
kemudian menangis
kelelahan dan terabaikan

Kami bukan rakyat
karena rakyat sudah mampus
sejak lama
kami cuma botol-botol bowling
yang dipasang untuk dirobohkan kembali

Kami bukan rakyat
karena rakyat sudah mampus
sejak lama
kami cuma sebuah kata hampa
yang dikutip tanpa punya daulat

Kami bukan rakyat
sejak pejabat jadi penjahat!

Sajak Bagaimana

Bagaimana negri ini bisa kaya
Jika korupsi jadi menu utama
Bagaimana negri ini bisa adil merata
Jika hasil bumi menguap entah ke mana

Bagaimana negri ini bisa bermartabat
Jika kebenaran tak mendapat tempat
Bagaimana negri ini bisa selamat
Jika di antara kita ada yang khianat

Bagaimana negri ini bisa makmur
Jika makin banyak orang yang menganggur
Bagaimana negri ini bisa tidak hancur
Jika pimpinan dan yang dipimpin tak pernah akur

Bagaimana negri ini bisa berdikari
Jika kita menghina produk dalam negeri
Bagaimana negri ini bisa dihormati
Jika kita jadi babu di rumah sendiri

Bagaimana negri ini bisa hijau
Jika hutan-hutan menggeliat risau
Bagaimana negri ini bisa tidak kacau
Jika si miskin hatinya galau

Bagaimana negri ini bisa amanah
Jika tiap hari terdengar fitnah
Bagaimana negri ini bisa tidak susah
Jika perlu uang banyak untuk sekolah

Bagaimana negri ini bisa jadi suluh
Jika setiap dari kita suka mengeluh
Bagaimana negri ini bisa utuh
Jika warganya saling menuduh

Bagaimana negri ini bisa bersatu
Jika beda pendapat dianggap keliru
Bagaimana negri ini bisa maju
Jika masyarakatnya alergi buku

Bagaimana negri ini bisa tidak kotor
Jika selingkuh sudah masuk kantor
Bagaimana negri ini bisa tersohor
Jika beras saja kita mesti impor

Bagaimana negri ini bisa besar
Jika suara rakyat tak pernah didengar
Bagaimana negri ini bisa benar
Jika suami-isteri saling mencakar

Bagaimana negri ini bisa jadi negri terdepan
Jika sejarah cuma jadi hafalan
Bagaimana negri ini bisa jadi negri panutan
Jika kejujuran sering diabaikan

Bagaimana negri ini bisa damai
Jika saudara sebangsa saling bantai
Bagaimana negri ini bisa henti berderai
Jika anarki telah jadi mata rantai

Bagaimana negri ini bisa berkelas
Jika muda-mudinya dibiarkan malas
Bagaimana negri ini bisa cerdas
Jika kritik sosial selalu ditumpas

Bicara tentang Indonesia
seperti bicara dalam cerobong asap
meski gelap dan pengap, toh kita musti tetap berharap!

Balada Ibu yang Dibunuh
Ibu musang dilindung pohon tua meliang
bayinya dua ditinggal mati lakinya.

Bulan sabit terkait malam memberita datangnya
waktu makan bayi-bayinya mungil sayang.

Matanya berkata pamitan, bertolaklah ia
dirasukinya dusun-dusun, semak-semak, taruhan
harian atas nyawa.

Burung kolik menyanyikan berita panas dendam warga desa
menggetari ujung bulu-bulunya tapi dikibaskannya juga.

Membubung juga nyanyi kolik sampai mati tiba-tiba
oleh lengkin pekik yang lebih menggigilkan
pucuk-pucuk daun
tertangkap musang betina dibunuh esok harinya.

Tiada pulang ia yang meski rampas rejeki hariannya
ibu yang baik, matinya baik, pada bangkainya gugur
pula dedaun tua.

Tiada tahu akan merataplah kolik meratap juga
dan bayi-bayinya bertanya akan bunda pada angin
Tenggara.
Lalu satu ketika di pohon tua meliang
matilah anak-anak musang, mati dua-duanya.
Dan jalannya semua peristiwa
tanpa dukungan satu dosa. Tanpa.

Balada Anak Jalanan 1
Ibu…aku mau netek…
Aku benar2 capek…
Hari ini aku cuman dapat gopek…
Kubelikan ibu sebungkus lotek…
Ibu…jangan ibu menangis…
Bukankah ini hari Kemis…
Biasanya ibu pergi dengan Pak Kumis…
Pulang2 bau amis…
Ibu…lebih baik kita bunuh diri….
Supaya mulai besok pagi…
Tak perlu aku meminta minta lagi…
Dan Ibu tak perlu melacur lagi…

sumber : http://awenk-iryanto89gmail.blogspot.com/2010/06/kumpulan-puisi-balada.html



Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s